Walikota Metro Jadi Narasumber Jamapai di HOGSI Solo

0
82
Foto: Walikota Metro Jadi Narasumber Jamapai di HOGSI Solo. (Ist)

Solo (matarajawali.id) – Wali Kota Metro, Wahdi Siradjuddin menjadi narasumber pada Musyawarah Nasional (Munas) Himpunan Obstetri dan Ginekologi Sosial Indonesia (HOGSI) yang ke-14 yang berlangsung di Harris Hotel dan Convention Solo, Jalan Slamet Riyadi, Kota Surakarta, Jawa Tengah, Senin (10/9).

Dalam kesempatan tersebut, Wahdi menjadi pembicara dengan materi Jaringan Masyarakat Peduli Ibu dan Anak (JAMA-PAI) yang berlangsung secara Hybrid.

Wahdi mengatakan, JAMA-PAI merupakan program yang dimaksudkan untuk memberikan perlindungan terhadap ibu dan anak, dimulai dari anak lahir dan pencegahan stunting.

“Kemudian masuk remaja memberikan pelayanan kesehatan termasuk HIV dan merokok. Artinya di satu Puskesmas kalau dijalankan semua, sudah selesai. Ini termasuk mencegah penyakit tidak menular (PTM),” katanya.

Dikatakanya, dalam JAMA-PAI dilakukan pengawasan dimulai dari pra-konsepsi lantaran pada fase ini merupakan fase penting dalam tumbuh kembang anak di masa mendatang.

“Ketika kita memelihara kehamilan dan persalinannya baik, maka tidak ada lagi. Motoriknya hanya terganggu, tapi tidak dengan anaknya,” ucapnya.

JAMA-PAI, lanjut Wahdi, diperuntukkan dalam pembentukan Sumberdaya Manusia (SDM), yang di Metro disebut Gemerlang (Generasi Emas Metro Cemerlang), sesuai dengan target Indonesia Emas 2045.

“Karena Jama-Pai itu sudah menyelesaikan tujuh pilar itu diantaranya kita sudah menyelesaikan masalah kesehatan, sosial, kesejahteraan. Mereka yang ingin menikah itu sudah harus ada saksi dari kita dan juga perhatian dari masyarakat tiga bulan itu sudah kita cek persyaratannya. Apabila ada masalah keluarganya dengan diabetes dan lain sebagainya cek dulu keluarganya. Jadi kita membentuk manusia itu bukan saat kondisi ibu dan si bapak ini sakit,” sambungnya.

Ia menambahkan, untuk angka pernikahan di bawah umur di Kota Metro merupakan yang terendah di Provinsi Lampung yaitu sebesar 14,7 persen.

“Ada kematian pada proses melahirkan itu terjadi pada mereka yang belum waktunya, kita menyebutnya 4T (terlalu muda, terlalu tua dan terlalu rapat serta banyak anak. Dan itu yg akan kita berikan himbauan kepada anak-anak remaja kita itu melalui pengetahuan kesehatan reproduksinya,” pungkasnya. (ars)

BAGIKAN