Penanggulangan Stunting di Tuba dan Mesuji Terkesan Sekedar Formalitas

0
64
Foto: Walikota Metro Perdana Tanam Kedelai di Margodadi. (ars)

Lampung  (matarajawali.id)- Dua orang anak di Kabupaten Mesuji dan Tulang Bawang mengalami keterlambatan pertumbuhan otak atau lazim disebut stunting. Meskipun sudah ada reaksi dan bantuan dari pemerintah daerah setempat, dinilai masih kurang memadai. Bahkan bantuan dari pihak terkait tersebut terkesan hanya formalitas.

Debi (5) tampak sedang asyik bermain sendirian. Gadis kecil ini seakan-akan memiliki dunianya sendiri. Aktifitas orang lain disekelilingnya, tidak mengalihkan perhatian dari mainan yang ada genggaman tangannya.

Sekilas tidak aneh dari fisik Debi. Anggota tubuh terlihat normal seperti anak balita kebanyakan. Tetapi setiap kali berpindah ke tempat, Debi tidak berjalan layak anak seusianya. Dia justru berjalan dengan cara merayap.

Debi merupakan anak pasangan Tumirin dan Susi, Warga RT.03/RW.03, Kampung Bumi Harapan, Kecamatan Way Serdang, Kabupaten Mesuji. Susi menuturkan, anaknya tersebut dari kecil tumbuh kembang otaknya terhambat. Atau secara medis disebut Mikro Chephalus.

Diungkapkan Susi, pihak pemerintah Kabupaten Mesuji pernah menjanjikan akan diberikan bantuan untuk pengobatan dan penanggulangan stunting yang diderita anaknya. Janji itu disampaikan akan Bulan Desember 2021 lalu. Tetapi hingga kini janji itu belum terealisasi.

Dia berharap, Pemerintah Kabupaten Mesuji memberikan perhatian khusus untuk anaknya, Debi, yang menderita stunting.

Tumirin, suami Susi, sehari-harinya bekerja sebagai penyadap karet. Dia menuturkan, sampai saat ini belum ada perhatian khusus buat anak kami Debi. Seperti memberi bantuan makanan yang bergizi atau uang tunai untuk mengobati anak kami ini.

“Saya berharap kalau ada bantuan dari instansi terkait, saya minta bantuan khusus untuk anak-anak seperti anak saya ini,” ujar Tumirin, saat ditemui dirumahnya beberapa waktu lalu.

Dia menambahkan, bagaimana dia (Debi) bisa tumbuh normal seperti anak-anak lainnya. Sebab untuk biaya pengobatan biayanya lumayan banyak.

Menurut Tumirin, penghasilannya sehari antara 70 ribu sampai 100 ribu sehari. Jumlah itu tidak menentu setiap harinya. Jika untuk menanggung biaya hidup keluarganya dan biaya pengobatan Debi jumlah itu tidak mencukupi.

Budiarto (52), tetangga Susi juga mengungkapkan, sampai saat ini belum ada pihak instansi terkait melihat kondisi Debi. Selain itu bantuan dari pemerintah untuk Debi juga tidak kunjung datang. Budiarto berharap pihak terkait memberikan bantuan untuk Debi agar bisa mengurangi beban Tumirin dan Susi.

Belum adanya bantuan dari pihak terkait kepada keluarga Tumirin dan Susi juga diamini oleh tetangga lainnya yang bernama Devi (25 Th). Dia mengatakan sampai saat ini belum ada bantuan dari Pemerintah untuk Debi.

“Kami berharap agar pemerintah kasih bantuan buat Debi,” ujar Devi.

Di tempat terpisah, awak media menyambangi Kantor Kepala Kampung Bumi Harapan, Kecamatan Sekretaris kampung Bumi Harapan, Kecamatan Way Serdang. Sekretaris Kampung Bumi Harapan Andi Hermawan mengatakan, pihak dari Kampung mengetahui perihal Debi yang menderita stunting.

Menurut Andi, pihaknya sudah mendata kasus stunting yang di kampung setempat, termasuk keluarga Susi dan Tumirin. Laporan itu sudah disampaikan kepada pihak Kecamatan Way Serdang, dan Dinas terkait. Selanjutnya masih menunggu instruksi dari pihak kecamatan.

Ditanya apakah anggaran kampung untuk penanggulangan stunting di Kampung Bumi Harapan? Andi menjelaskan bahwa para perangkat desa dan aparatur kampung belum lama menjabat. Sedangkan anggaran kampung Tahun 2022 masih melanjutkan anggaran yang ditetapkan Tahun 2021.

“Tapi untuk anggaran 2023 kita belum ada Musdes (Musyawarah Desa), untuk penganggaran anak-anak stunting,” tandasnya.

Andi berharap Dinas terkait memfasilitasi pemberian bantuan untuk anak-anak penderita stunding di di wilayah Kampung Bumi Harapan.

Kurang maksimalnya upaya pemerintah daerah dalam penanggulangan anak penyandang stunting tidak hanya di Kabupaten Mesuji. Di Kabupaten Tulang Bawang, bantuan untuk seorang anak yang mengidap keterlambatan tumbuh kembang otak juga terkesan sekedar formalitas.

Pasangan Erlinda (30) dan Rudianto (37), warga RT.04/RK.04, Kampung Dwi Warga Tunggal Jaya, Kecamatan Banjar Agung, Kabupaten Tulang Bawang tidak hentinya berupaya mengobati anak balitanya yang bernama Zaskia.

Dikatakan Erlinda, Zaskia dinyatakan pihak medis mengalami keterlambatan tumbuh kembang otak. Hingga menginjak usia 1 tahun, Zaskia belum bisa melakukan aktifitas layaknya anak lain seusianya.

Kondisi Zaskia yang mengalami keterlambatan tumbuh kembang otak diketahui sejak berusia 4 bulan Berbagai upaya pengobatan sudah dilakukan, tapi belum menunjukkan hasil yang memuaskan.

“Kami bawa Zaskia Ke rumah sakit untuk Rehap medik, untuk melakukan fisioterapi,” terang Erlinda.

Tidak menyerah, Erlinda dan suaminya juga sudah melaporkan ke pihak Puskesmas Kecamatan Banjar Agung dan kepada bidan desa setempat. Dia mengakui pihak Puskesmas 2 kali menjenguk langsung untuk melihat kondisi Zaskia. Serta memberikan makanan tambahan berupa biskuit untuk Zaskia.

Erlinda berharap kepada Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang agar lebih memberikan perhatian khusus buat zaskia. Karena upaya melanjutkan pengobatan Zaskia membutuhkan biaya tidak sedikit.

“Karena harus di fisioterapi, beli vitamin, dan obati lainnya untuk mengejar keterlambatan tumbuh kembang Zaskia. Sampai saat ini belum ada bantuan dari pemerintah,” ujar Erlinda.

Titin (39), tetangga Erlinda menunturkan, pihak Puskesmas pernah mengunjungi ke rumah Zaskia dan memberi makanan tambahan berupa biskuit. Namun yang dibutuhkan bukan sekedar butuh biskuit saja.

“Butuh biaya juga untuk beli vitamin, fisioterapi dan yg lainnya. Agar pemerintah setempat lebih peduli, karena Zaskia lagi berjuang mengejar keterlambatan tumbuh kembangnya. Sementara orang tuanya kondisi ekonomi menengah kebawah,” cetus Titin. (Rudianto)