Jember (matarajawali.id)- Salat Idul Adha di ponpes Al-Ikhlash Wuluhan Jember dimulai pada pukul 06.15 WIB bertindak selaku imam yaitu ustaz Abdullah Hadziq dan sebagai khotib yaitu ustaz Mochammad Abdul Muid S.Pd.I keduanya adalah pengurus Ponpes Al-Ikhlash. Pelaksanaan Salat Idul Adha digelar di halaman ponpes pada ahad (10/7/2022), pagi.
Acara tersebut diikuti oleh para santri putra dan putri Ponpes Al-Ikhlash keluarga besar dan warga sekitar Ponpes. Seperti biasa tata cara pelakasanaan salat sunnah Idul Adha yaitu tanpa adzan dan tanpa iqamat dimulai dengan salat 2 rakaat kemudian dilanjutkan dengan khutbah Idul Adha.
Dalam khutbahnya khotib asal Banyuwangi ini menyampaikan pada jama’ah salat Idul Adha bahwa semua agama mengklaim bahwa diri merekalah yang berhak menjadi ahli surga akan tetapi hal tersebut dibantah oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam firmannya Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 111 dan 112.
“Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani”. Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar”.
(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. 2: 111-112).
Sesekali khotib menggemakan takbir. “Allahu Akbar Allahu Akbar Laailaha illallah Wallahu Akbar Allahu Akbar wa lillaahilham du.”
Lebih lanjut khotib menjelaskan agama-agama atau aliran-aliran memiliki peribadatan melakukan penyembelihan hewan dalam rangka mengagungkan Tuhan atau sesembahan mereka.
“Orang musyrikin menumpahkah sembelihan mereka kepada thogut (sesuatu yang disembah atau ditaati selain Allah) ada yang bentuknya larung saji, sedekah bumi atau sesajen lainnya. Usaha yang merekan lakukan berujung pada dosa syirik (perbuatan menyekutukan Allah) dan mengantarkan mereka pada api neraka, naudzdu billah (kami berlindung kepada Allah),” tegasnya.
“Disaat yang sama Islam memberikan kesempatan kepada kaum muslim untuk beribadah kepada Rabb (Tuhan) semesta alam dengan menyembelih qurban, ibadah mulia yang menjanjikan pahala besar. Kita bisa perhatikan kegiatan yang dilakukan sama, sama-sama menyembelih sama-sam bermodal binatang, akan tetapi ujung akhirnya sangat jauh berbeda yang satu mengantarkan ke neraka dan yang satu mengantarkan ke surga” pungkasnya.
Sesekali khotib menggemakan takbir. “Allahu Akbar Allahu Akbar Laailaha illallah Wallahu Akbar Allahu Akbar wa lillaahilham du.” Di akhir khutbah, khotib berpesan agar umat muslim tidak perlu khawatir dengan kenaikan harga barang, karena kenaikan harga juga pernah terjadi di masa lampau dan Allah telah menjamin rejeki setiap muslim. Rangkaian acara dilanjutkan dengan penyembelihan hewan qurban dan pembagian daging qurban. Adapun panitia qurban adalah pengurus ponpes dan warga sekitar.(Mbah Erqin)







