Seketaris DPD Partai PSI SBD Angkat Bicara Terkait Kuliah Singkat

Foto: Seketaris DPD Partai PSI SBD Angkat Bicara Terkait Kuliah Singkat. (Ist)

Sumba Barat Daya (matarajawali.id)- Gelar Sarjana Pendidikan Kades Kahale secepat kilat belakangan ini menjadi perhatian publik di Kabupaten Sumba Barat Daya. Selasa (26/07/2022).

Ironisnya, untuk memperoleh gelar Strata Satu (S1) Pendidikan Agama Kristen disalah satu perguruan tinggi Sekolah Tinggi Agama Kristen Teruna Bhakti yang berada di Kota Metro Politan (Yogyakarta) hanya membutuhkan 17 satuan kredit semester (SKS) dan dinilai tidak bisa dibenarkan.

Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah Partai Solidaritas Indonesia, SBD, Alex Nono Lero. menanggapi berita yang beredar itu patut di pertanyakan perguruan tinggi yang membuka program perkuliahan singkat.

Alex menegaskan mahasiswa yang mendapatkan ijazah meski tidak pernah mengikuti kuliah sama saja membeli ijazah. Perkuliahan yang ditempuh dengan cara tidak wajar, itu tidak benar. Sama saja ijazahnya palsu.

“Karena sepengetahuan saya mahasiswa kuliah untuk jenjang Sarjana (S1) sesuai Standar Pendidikan 4 tahun. Dan minimal 144 SKS dan maksimalnya 160 SKS. Kalaupun bisa cepat itu maksimal 3,5 tahun. Itupun faktornya karena mahasiswanya pandai bukan program kuliahnya yang cepat dan singkat,”jelasnya.

Jadi kalau beliau mendapatkan gelar S1 dengan 17 SKS itu sangat tidak tidak wajar dan bisa dikatakan itu ilegal.

“Namun untuk memastikan berita tersebut dan juga meredakan berbagai tanggapan masyarakat. Ia berharap melalui Pemerintah Kabupaten SBD dan Dinas P dan K berkolaborasi dengan pihak Kepolisian untuk mengusut hal ini.

“Agar mendapatkan titik terang, sehingga ijasah tersebut tidak disalah gunakan oleh oknum tersebut. Serta kades kahale dapat mengklarifikasi pernyataan secara terbuka,”tegasnya.

Juga hal lain yang harus di perhatikan oleh pemerintah adalah maraknya tempat pendidikan yang bersifat instan dan bertujuan utama untuk komersil yang bisa mencetak ijasah asalkan ada uang.

“Program seperti itu justru mencederai dunia pendidikan dan mengorbankan masa depan generasi muda. Karena, sebagai generasi terdidik, mereka justru tidak mempunyai keilmuan tetapi hanya mementingkan selembar kertas ijazah,”ujarnya.

Dan ini akan sangat menyesatkan masyarakat awam yang juga mau mendapatkan ijasah dalam waktu yang sangat singkat, karna kebutuhan masuk bursa Calon Kades, Calon Legislatif dan lain sebagainya.

“Jadi ini perlu ditindak secara cepat dan tegas. Terutama pihak Dinas Pendidikan agar selektif dalam mengeluarkan ijin pendirian sekolah atau universitas,”tutupnya.

Jurnalis~”Rovyn Tenge”

BAGIKAN