Lampung Tengah (matarajawali.id) – Pemilihan Kepala Lingkungan (Pilkaling) di Kelurahan Bandar Jaya Barat, Kecamatan Terbanggi Besar, aura persaingannya mendekati aura Pemilu. Elemen masyarakat mengingatkan agar tidak ada yang bermain politik uang.
Ketua LSM Gerakan Masyarakat Cinta Tanah Air (GMCTA) Kabupaten Lampung Tengah Ahmat Basuri mengatakan, sekarang ini jabatan Kaling cukup memiliki gengsi di masyarakat. Banyak orang berlomba untuk menjadi Kaling. Tingginya suhu persaingan memperebutkan jabatan Kaling bisa mendorong seorang calon melakukan politik uang (money politik) demi meraup suara.
Penggiat dan pemerhati masalah sosial kemasyarakatan di Kabupaten Lampung Tengah ini mengingatkan, persaingan demi memperebutkan jabatan Kaling jangan dikotori oleh politik uang. Karena politik uang menggiring masyarakat untuk memilih calon berdasarkan jumlah nominal rupiah, bukan dari latar belakang dan kompetensi yang dimilikinya.
Basuri melanjutkan, kerugian akan dirasakan sendiri oleh warga yang memilih calon pemimpin karena telah diberikan sejumlah uang. Sebab setelah calon tersebut terpilih dan menjabat, selama kurun waktu dia menjadi pemimpin, dia akan selalu berfikir untuk mengembalikan modal pencalonnnya.
Masih kata Basuri, dalam Pilkaling ini sangat tidak rasional jika ada calon Kaling yang menaburkan uang kepada warga agar memilih dirinya. Sebab insentif seorang Kaling hanya 2 juta rupiah lebih sedikit. Sebagai pamong yang kewenangannya hanya di lingkungannya sendiri, peluang seorang Kaling mencari sumber penghasilan tambahan terbatas. Dikhawatirkan warga menjadi sasaran untuk mengembalikan modal.
“Ada teman saya bilang begini, kalau ada Kaling menang pemilihan karena tabur uang, kelak dia tidak mau menerima diberikan Jambu Bol lagi. Mintanya Dji Sam Soe,” selerohnya.
Basuri mengungkapkan, dia merasa terpanggil untuk melakukan pendidikan kepada masyarakat agar tidak terjebak dengan politik uang yang menggiring untuk memilih seseorang. Usaha tersebut tidak terbatas di Pilkaling saja, termasuk Pemilihan Legislatif, Pemilihan Gubernur dan Pemilihan Bupati.
“Kalau politik uang terus membudaya, nanti calon yang bagus tapi tidak punya uang akhirnya tidak terpilih. Yang menjadi wakil rakyat, atau pemimpin hanya orang kaya yang punya uang banyak. Tanpa melihat lagi dia seorang penjahat atau orang baik yang penting kasih uang,” ujarnya saat ditemui di Sekretariat LSM GMCTA di Kelurahan Bandar Jaya Timur Selasa (22/06/2021).
Bagaimana pandangan para calon Kaling tentang money politik? Apa harapan mereka kepada calon Kaling lainnya? MataRajawali.id mencoba berbincang dengan sejumlah calon Kaling yang berhasil ditemui.
Calon Kaling II nomor urut 04 Ahmad Junaidi SJ yang ditemui dikediamannya mengungkapkan, para calon Kaling II telah berkomitmen untuk tidak melakukan politik uang. Masing-masing calon Kaling memperhatikan calon lainnya, untuk mencegah upaya politik uang. Hal ini disepakati semua kandidat dengan tujuan sebagai contoh kepada even Pilkada dan Pemilu Legislatif.
“Kedepannya untuk percontohan di Pemilu Legislatif dan Pilkada. Kalau bisa calon ini benar-benar pilihan masyarakat, dan tidak ada unsur bantuan dari pihak lain kepada Kaling,” tandasnya.
Menurut Jun Vijay sapaan akrab Ahmad Junaidi ini, politik uang itu membuat pemilih tidak memperhatikan sosok yang dipilih. Karena yang diperhatikan hanya nominal uang yang diberikan yang menjadi dasar untuk memilih seorang calon.
Jun Vijay mengungkapkan harapannya kepada siapapun calon Kaling yang terpilih, agar fokus bekerja memprioritaskan hal keamanan, ketertiban dan kebersihan. Selain itu, saat melayani masyarakat harus iklas dan tidak berpatokan kepada sejumlah uang. Kepada kandidat yang tidak terpilih Jun Vijay meminta agar bisa iklas.
“Selaku kandidat seandainya saya terpilih, saya minta bantu dukungan dengan kandidat yang lain. Seandainya saya kalah saya tidak kecewa, sebaliknya saya akan bantu mendukung kandidat yang menang,” tegasnya.
Jun Vijay menambahkan, saya berharap agar para kandidat jangan ada pengerahan massa. Berkopetisi dengan sehat dan sportif.
Sepandangan dengan Jun Vijay, calon Kaling II nomor urut 01 Imanullah Ali alias Boim membenarkan adanya kesepakatan tertulis 4 calon Kaling II Kelurahan Bandar Jaya Barat untuk tidak bermain politik uang. Ditemui dirumah orangtuanya di Gang Libas, Boim tidak terlalu banyak berkomentar.
Menurut Boim, Pilkaling II akan menjadi percontohan untuk Pilkaling lainnya bahkan untuk Pileg dan Pilkada. Karena banyak kabar beredar, Pilkaling di kelurahan lain ada yang bermain politik uang. Dengan tegas Boim menyatakan tidak akan bermain politik uang.
Boim juga berpesan, Pilkaling ini harus murni berdasarkan nurani rakyat. Dan semua calon Berkompetisi dengan sehat. Jangan ada perselisihan, damai.
“Siapapun yang menang, kami akan bantu mendukung,” ujar Boim, senada dengan Jun Vijay.
Calon Kaling III nomor urut 03 Mulyadi ditanya pandangannya tentang politik uang tidak spontan menjawab. Dia memaparkan pengalaman masa lalunya yang berkaitan dengan politik uang. Ditemui di bangunan terbuka yang menjadi posko tempat bercengkrama para warga yang ingin mengunjunginya dia bercerita.
Saya ini salah satu kader partai Tahun 2011. Tahun 2014 saya mencalonkan diri dari Partai PAN. Kebetulan tidak jadi. Saya salah kader partai yang diunggulkan, saya salah satu kader yang potensial. Tetapi pada saat pemilihan dihari “H”, setelah perhitungan (suara) saya kalah. Kenapa saya kalah? Desas desusnya dan bukan rahasia umum lagi ada kader lain, entah itu kader internal atau eksternal yang bermain duit.
Masih kata Mulyadi, saya berkesimpulan money politik ini khususnya di negara kita ini kurang bagus. Karena dengan money politik kita akan memilih wakil yang tidak bagus. Karena yang benar-benar berjuang untuk masyarakat tidak jadi karena tidak terpilih. Saya tidak mendiskreditkan salah satu golongan atau partai tertentu.
Dia melanjutkan, menurut padangan saya politi uang sangat merugikan untuk kader yang mau berbuat untuk masyarakat. Sebab dia kalah karena kader tersebut tidak potensial dalam artian tidak ada duit. Memang semua perlu duit tidak ada yang gratis. Tapi dengan money politik itu, kader yang punya kapabilitas dan punya potensi jadi kalah.
“Saya tidak mendukung adanya money politik. Terkait dengan Pilkaling ini saya mendorong kalau bisa jangan ada money politik. Karena jika money politik ini bermain, maka akan menghancurkan tatanan demokrasi,” tegasnya.
Ditambahkan Mulyadi, dari beberapa calon mungkin masyarakat bisa menilai. Mungkin ada orang yang benar-benar mempunyai keinginan untuk memajukan Lingkungan III ini. Dengan tidak adanya money politik harapannya bisa terpilih Kaling yang potensial, dan punya kapabilitas yang benar-benar bersih.
Dia berharap kompetisi Pilkaling ini berlangsung secara gentle, terbuka, transparan. Dengan menunjukkan visi dan misi yang jelas, perbuatan yang jelas. Kepada warga yang akan memilih, Mulyadi berharap agar menolak pemberian uang dari seorang calon Kaling.
“Ada sebagian orang bilang, tompo duite tapi ojo nyoblos wonge. Tapi kalau saya jangan diterima uangnya dan jangan dipilih orangnya,” tutupnya.
Calon Kaling III nomor urut 05 Jumanto saat ditanya pandangannya tentang politik uang dengan tegas menjawab, bahwa politik itu itu sama dengan tidak mendidik masyarakat. Perilaku tersebut mencederai demokrasi. Karena berpotensi merusak mental masyarakat, untuk memilih calon berdasarkan jumlah uang yang diberikan.
Dikatakan pria yang puluhan tahun berkecimpung di Kelurahan Bandar Jaya Barat ini, politik uang justru bisa merusak nama baik calon tersebut meskipun dia terpilih karena mendapat suara terbanyak. Karena gunjingan masyarakat tentang iming-iming sejumlah uang demi memilih dirinya, akan terus jadi perbincangan di masa yang akan datang.
Sebagian masyarakat, dilanjutkan Jumanto, tidak mudah termakan bujuk rayu calon yang memberikan sejumlah uang. Ada warga yang berprinsip, dan tidak mau menerima uang dengan imbalan memilih seseorang. Kendati demikian Jumanto mengakui ada warga yang mau menerima uang dari seseorang calon, tapi tidak memilih calon tersebut saat di bilik suara.
“Kerugian bisa dipihak calon yang membagikan uang karena tidak dipilih sedangkan uangnya habis dibagikan. Bisa juga kerugian dipihak masyarakat saat calon itu menang, dia akan berfikir untuk mengembalikan modalnya,” ujarnya.
Kepada masyarakat Jumanto berpesan, agar memilih seorang Kaling berdasarkan hati nurani. Dengan tetap memperhatikan pengalamannya, pergaulannya di masyarakat, tanpa melihat dia sosok kaya raya atau miskin.
Ditempat terpisah, calon Kaling II nomor urut 02 Alexander mempunyai pandangan sedikit berbeda. Menurut Alex sapaan Alexander, money politik itu tidak ada benarnya. Tetapi sah-sah saja bagi orang yang melakukan hal tersebut. Kendati demikian, Alex menegaskan dirinya tidak akan melakukan politik uang di Pilkaling ini. Dia meyakini pendekatan pribadi kepada masyarakat menjadi resep jitu memenangi persaingan.
“Terserah penilaian warga apa yang pernah diperbuat seorang calon. Untuk calon Kaling lain, mari kita bersaing dengan sportif saja. Terserah kepada masyarakat untuk menilai masing-masing calon Kaling,” harapnya kepada kandidat lainnya.
Alex mengungkapkan, dirinya sudah berupaya mensosialisasikan visi dan misi pencalonannya kepada warga. Sebagai calon yang pernah berkiprah sebagai ketua RT, dia meyakini akan menjadi nilai plus tersendiri di mata para warga Lingkungan II. Kendati demikian Alex menyerahkan pilihan kepada warga, apakah dirinya layak atau tidak memimpin sebagai Kaling II.
Alex menambahkan, selama pencalonan di Pikaling ini dia diberi cuti oleh Lurah Bandar Jaya Barat. Mengingat ada masa kampanye yang mengharuskan seorang Ketua RT bersikap netral.
Kendati sejumlah calon Kaling menyatakan tidak akan bermain politik uang, tetap saja peluang untuk melakukan hal tersebut masih terbuka. Bagaimana menurut pendapat dari pihak Panitia Pilkaling Kelurahan Bandar Jaya Barat? Apakah ada aturan yang membatasi upaya politik uang? Apakah Ada sanksi untuk pelaku money Politik?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut MataRajawali.id mengkonfirmasikan kepada Ketua Panitia Pilkaling Kelurahan Bandar Jaya Barat Hi. Agus Suntari. Ditemui dirumah salah seorang warga, Hi. Agus Suntari ini mengakui peluang terjadinya politik uang pasti ada. Informasi politik uang yang dilakukan seorang calon seringkali berasal dari calon lainnya.
Dia menuturkan, kalau di Pemilu dan Pilkada ada wadah untuk melaporkan calon yang berbuat politik uang. Dan diatur dalam peraturan yang jelas dan mengikat. Sementara untuk Pilkaling, Peraturan Gubernur No.13 Tahun 2021 yang menjadi dasar penyelenggaraan Pilkaling hanya mengatur hal-hal yang bersifat umum.
“Di Pergub itu hanya mengatur syarat pendaftaran dan pemberhentian Kaling,” jelas mantan perwira Polisi ini.
Ditanya bagaimana jika ada laporan adanya perbuatan politi uang, Hi. Agus mengatakan selama bisa ditelorir dan bisa didekati maka akan diselesaikan secara kekeluargaan. Tetapi kalau hal itu sudah terjadi, akan diserahkan kepada Lurah atau Camat untuk yang memutuskan. Dia meyakini jika terbukti ada calon yang melakukan politik uang bisa saja di diskualifikasi.
“Saya berharap agar Pilkaling terlenggara dengan mulus tanpa ada kendala,” ucapnya.
Dia melanjutkan, dalam sebuah persaingan seperti Pilkaling ini pasti ada pihak yang kalah dan ada pihak yang menang. Tiap hari kita bertemu, kembalilah seperti semula. Jangan ada rasa dendam kepada calon lainnya.
Kepada masyarakat Hi. Agus berpesan, agar benar-benar memperhatikan calon yang akan dipilih. Karena Kaling tersebut akan menjadi pemimpin di Lingkungan selama 3 tahun kedepan. Masyarakat sendiri yang akan merasakan hasil perbuatan dari Kalingnya.
“Amati perubahan yang dilakukan Kaling di Lingkungannya. Kalau dirasa dia bagus perbuatannya, mungkin nanti bisa dicalonkan lagi,” tutupnya. (Willy Dirgantara)







