Pringsewu (matarajawali.id) – Handoko salah satu pengerajin tungku pawon tradisional berbahan dasar tanah liat asal Kecamatan Pringsewu, Kabupaten Pringsewu, masih tetap bertahan meski penggunaan kompor gas dan listrik semakin banyak digunakan warga.
Aktivitas pagi itu di pedesaan Rejosari tidak jauh berbeda dengan kehidupan keseharian di desa yang mayoritas warganya bermata pencaharian utamanya sebagai petani dan pekebun.
Tetapi suasana berbeda di halaman rumah yang terletak di Dusun Rejosari RT/RW 02/02 Desa Rejosari Handoko bersama Warga setempat tengah menyiapkan sebuah adonan tanah liat untuk dijadikan tungku.
“Proses ini membutuhkan keterampilan keuletan dan ketelatenan untuk menyelesaikan. Butuh teknik-teknik tertentu agar tidak retak. Namanya juga pembuatan secara manual,” ungkap Handoko kepada Awak media matarajawali.id, minggu (02/05/2021).
Handoko mengakui untuk satu pembuatan tungku pawon dibutuhkan waktu berminggu – minggu agar cetakan sempurna dan siap dipasarkan ke para pemesan maupun pembeli.Kalau untuk harganya dikisaran Rp 35- 70 ribu rupiah satu tungku.
“Proses pembuatan dari nol sampai siap jual kurang lebihnya 15-20 hari. Itupun harga standar ukuran besar 70 ribu dan 35 ribu ukuran kecil,” imbuhnya
Handoko menambahkan, permintaan tungku pawon akan meningkat seiring dengan musim hajat di sejumlah kampung di sekitar tempat tinggalnya. Sebab, daya tahan tungku pawon mampu digunakan memasak skala ukuran besar.
“Tungku ini kuat tahan beban, biasanya musim pernikahan atau hajatan masih banyak yang pesan pawon-pawon ini,” paparnya
Sebaliknya di masa sekarang apalagi di wabah Covid-19, produksi pawon juga akan lama terjualnya. Handoko mengakui usaha pawon tradisional seperti ini sudah tidak lagi dijadikan sebagai usaha utama. (Woko)







