Lulus Kuliah M.Soleh Pilih Budidaya Jamur

Foto: Lulus Kuliah M.Soleh Pilih Budidaya Jamur. (IMbah Erqin)

Probolinggo (matarajawali.id) – Indonesia yang dikenal sebagai negara agraris tidak serta merta menjadikan usaha pertanian sebagai primadona yang diminati oleh masyarakat.

Kebutuhan lahan yang luas, proses yang lama, penggunaan banyak tenaga kerja, serta modal yang tidak sedikit, membuat usaha pertanian sulit mendapat perhatian, terutama bagi para pemula pelaku usaha. Secara umum, budidaya pertanian tidak terlepas dari kebutuhan-kebutuhan tersebut, terutama untuk produk pertanian seperti palawija dan hortikultura, namun terdapat sebagian produk pertanian yang mudah dan sederhana untuk dibudidayakan, salah satunya yaitu jamur tiram.

Budidaya jamur tiram dilakukan di dalam ruang tertutup, media tanaman tersusun secara vertikal menggunakan rak bertingkat, sehingga tidak memerlukan lahan yang luas.

Masa budidaya jamur tiram membutuhkan sekitar empat bulan dari proses awal sampai panen, yang setiap prosesnya dapat dilakukan oleh satu orang (sesuai dengan jumlah jamur yang dibudidayakan). Modal utama yang perlu dipersiapkan yaitu bibit jamur tiram, baglog sebagai media tanam dan rak atau kumbung sebagai wadah penempatan baglog. Persiapannya yang mudah dan pembiayaannya yang murah dapat menjadi pertimbangan usaha, terutama bagi para pemula yang memiliki minat usaha di bidang pertanian.

Mochamad Soleh, merupakan salah satu dari pelaku usaha yang memulai karirnya dalam bisnis budidaya jamur tiram. Pria lulusan Program Studi Fisika Universitas Jember pada 2017 lalu tersebut mulai membudidayakan jamur tiram sejak lulus kuliah. Budidaya Jamur Tiram ia pelajari secara otodidak. Bahkan di awal karirnya, warga Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo tersebut tidak hanya melakukan budidaya saja, tetapi juga mengolahnya menjadi produk jamur crispy.

“Semua saya lakukan sendiri, mulai dari persiapan bibit, pembuatan baglog, pemasaran dan pengolahan jamur crispy. Olahan jamur crispy tidak dilanjutkan karena kewalahan di proses pengolahannya. Selain itu, harga bahan baku juga naik selama masa pandemi,” ujarnya.

Menurutnya, jamur tiram memiliki berbagai manfaat, salah satunya yaitu mampu menggantikan peran daging dalam menyuplai protein. Hal tersebut dapat menjadi pertimbangan bagi vegetarian atau bagi yang berhalangan untuk mengonsumsi daging sebagai makanan pilihan. Jamur tiram tidak mengandung racun, sehingga aman untuk dikonsumsi sebagai menu harian.

“Kelebihannya salah satunya buat para pecinta kuliner yang tidak suka daging karena kolesterol tinggi. Untuk kelemahannya, daya simpannya tidak bertahan lama, dalam tiga hari harus sudah diolah. Kalau urusan dapur biasanya paling cepet digoreng sama tepung, di crispy itu paling cepat. Untuk varian olahan banyak, sperti dibuat sop, oseng-oseng, isian roti dan masih banyak lagi. Sedangkan cara mengetahui jamur yang beracun dan tidak beracun, yang beracun itu ada cincinnya dan warnanya sedikit mencolok. Yang sudah umum dikonsumsi dan aman yaitu seperti jamur tiram ini, jamur kancing, jamur kuping dan banyak jamur-jamur lainnnya” Jelasnya. (Mbah Erqin)

BAGIKAN