Kecamatan Kodi (matarajawali.id)-Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN) merupakan mata pelajaran yang dirancang untuk membekali peserta didik dengan keimanan dan akhlak mulia sebagaimana diarahkan oleh falsafah hidup bangsa Indonesia yaitu Pancasila.
Pembelajaran PPKN bertujuan untuk mengembangkan daya nalar bagi peserta didik, karena difokuskan untuk pembangunan karakter bangsa yang merupakan proses pengembangan warga Negara yang cerdas dan berdaya nalar tinggi.
“Terkait hal itu, maka Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN) memusatkan perhatiannya pada pengembangan kecerdasan, tanggung jawab, dan partisipasi warga Negara sebagai landasan pengembangan nilai dan perilaku demokrasi.
Dalam hal tersebut, selaku Guru Mapel PKN, Novayanus Kaha, S.Pd mengatakan dirinya pernah mendapatkan persoalan terhadap pembelajaran PKN di karenakan kurang aktifnya siswa dalam proses KBM yang dipengaruhi beberapa faktor, salah satunya strategi pembelajaran yang kurang menarik bagi siswa.
“Siswa yang cenderung datang duduk, diam, mendengarkan kemudian diberi tugas dan mengerjakan. Dan cara seperti ini memberikan dampak kejenuhan bagi siswa sehingga pola pikir siswa tidak dapat maju dan berkembang.
Ia mengatakan dalam proses pembelajaran mata pelajaran PPKn ada beberapa masalah yang timbul, salah satunya akibat adanya sikap sosial yang belum terbentuk pada siswa.
“Seperti sikap kurangnya minat dan kemauan belajar siswa, sikap tidak memperhatikan guru pada saat menjelaskan mata pelajaran, sikap searching atau mencontek menggunakan handphone pada saat ujian, sikap kurang menjalankan budaya sekolah yang ada, dan lain sebagainya,”jelasnya.
Lebih lanjut, pada pembelajaran yang bersifat konvensional, masih kurang efisien dalam menggunakan metode ceramah menjadi suasana KBM yang membosankan.
“Sehingga para siswa merasa jenuh dan tidak ada gairah untuk mengikuti pelajaran, akibatnya tujuan pembelajaran tidak tercapai,”ungkapnya.
“Menurutnya, dalam pembelajaran PPKn guru hendaknya lebih memilih berbagai variasi pendekatan, strategi metode yang sesuai dengan situasi sehingga siswa bisa aktif dalam mengikuti pelajaran.
Pembelajaran yang berkualitas adalah pembelajaran yang melibatkan seluruh komponen utama proses belajar mengajar, yaitu guru, siswa dan interaksi antara keduanya, serta ditunjang oleh berbagai unsur-unsur pembelajaran, yang meliputi tujuan pembelajaran, pemilihan materi pelajaran, sarana prasarana yang menunjang, situasi dan kondisi belajar yang kondusif, lingkungan belajar yang mendukung kegiatan belajar mengajar (KBM), serta evaluasi yang sesuai dengan kurikulum.
Dan prestasi belajar siswa hanya dapat dioptimalkan melalui peningkatan kualitas pembelajaran,”jelasnya.
Ia juga mengatakan, dari hasil refleksi adalah cara untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan strategi pembelajaran yang berguna untuk meningkatkan minat dan prestasi belajar siswa yaitu dengan strategi ceramah plus. metode ceramah Plus adalah hasil kombinasi antara metode ceramah dengan metode-metode yang lain.
Metode ceramah Plus hadir pada saat metode ceramah sudah dianggap tidak efisien lagi digunakan dalam proses pembelajaran. Pada metode ceramah ini dalam pelaksanaannya selalu menggunakan metode ceramah kemudian diselingi atau ditambah dan digabung dengan metode yang lain sehingga proses pembelajaran berlangsung efektif dan efisien,”ujarnya.
Salah satu keunggulan menurutnya, teknik ini adalah siswa berdiskusi atau tanya jawab kepada bapak ibu guru sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan.
“Metode pembelajaran ini lahir sebagai alternatif lain untuk mengefektifkan proses pembelajaran di sekolah,”imbuhnya.
Oleh karena itu, ia berharap kepada sesama pendidik, kita dituntut harus memiliki keterampilan dalam mengajar. Keterampilan dasar mengajar
tersebut antara lain: keterampilan bertanya, keterampilan memberi penguatan, keterampilan mengadakan variasi, keterampilan menjelaskan, keterampilan membuka dan menutup pelajaran, keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil, keterampilan mengelola kelas, dan keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan.
Dan khusus untuk siswa, diharapkan harus memiliki kemampuan membaca terhadap persoalan yang pada dunia sehingga lebih meningkatkan kreatif dan memperoleh hasil belajar yang lebih memuaskan dan tetap menjadi teladan yang baik bagi sesama siswa.
Serta harapannya kepada orangtua siswa diperlukan sikap kooperatif, artinya Guru harus bekerjasama dengan orang tua di dalam mendidik anak karena itu merupakan sebuah keniscayaan.
“Seorang responden bahkan menyebutkan mana bisa seorang anak yang mengalami masalah tentang kesulitan belajar, semua beban tersebut diberikan ke pundak guru, padahal seringkali kesulitan belajar tersebut berangkat dari masalah di rumah.
Salah duanya, kurangnya fasilitas belajar anak berupa peralatan yang dipergunakan secara pribadi, seperti kelengkapan buku pelajaran, pulpen dan lain-lain, maupun fasilitas sekolah secara umum.
Salah tiganya, atau sekolah belum mempunyai perpustakaan dengan jumlah buku yang memadai dan beberapa alat peraga pembelajaran yang belum dimiliki sekolah tersebut.
Kesimpulannya, ia berharap uluran tangan dari orangtua siswa walaupun dalam persentase yang lebih kecil, orang tua dimohon untuk lebih memahami karakter anak, selalu membimbing dan memotivasi mereka, dan melakukan kontrol terhadap program-program pembiasan positif di rumah,”pungkasnya.
Jurnalis~”Rovyn Tenge”







