Sumba Barat Daya (matarajawali.id)-Menanggapi cuplikan Video saat Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, S.H., M.Si. dan warga disaat Gubernur meninjau lokasi penangkaran sapi dimana berujung kisruh, dalam tangkapan video tersebut, gubernur terang mengeluarkan kata yang telah menghina salah satu warga di Kabupaten Sumba Timur dengan Kata Monyet.
Letak lokasi Instalasi Peternakan yang diklaim oleh Pemprov NTT, terletak di Desa Kabaru, Kecamatan Rindi, Kabupaten Sumba Timur.
Selaku sekretaris Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Alex N. Lero menyampaikan sikap mengecam ucapan rasis Gubernur Nusa Tenggara Timur, Viktor Bungtilu Laiskodat, S.H., M.Si. yang telah melukai hati dan perasaan masyarakat terlebih khusus pada warga yang di sebut Monyet maupun warga Sumba pada umumnya,”ujarnya.
Alex juga menjelaskan, seorang pemimpin tingkat provinsi sangat tidak pantas mengeluarkan kata-kata yang bersifat mengancam, intimidasi, serta berbau rasis, dampaknya akan meluas di seluruh lapisan masyarakat.
Dimana sangat jelas ungkapannya, saya akan masukkan dalam penjara, bukan gubernur biasa dan capek serta dasar kau Monyet, seorang gubernur sangat tidak pantas mengucapkan bahasa demikian.
Alex juga mengatakan, beliau bukan saja kali ini mengeluarkan kata-kata yang penuh kasar dan kontroversi serta terkesan merendahkan warga di pulau sumba.
Beberapa waktu yang lalu mengeluarkan kata bodoh dan miskin yang di tujukan kepada Pejabat Negara di bawahnya, juga kata kasar tentang Plt. Sekda Sumba Barat Daya dan beberapa ungkapan lainnya yang menyebabkan kegaduhan di tengah masyarakat NTT.
Oleh sebab itu saya selaku Sekretaris DPD PSI SBD meminta dengan hormat agar Gubernur NTT (terlepas dari siapa yang salah dan benar) mau berbesar hati meminta maaf secara terbuka atas ucapan rasisnya tersebut.
Jika kita mengikuti visi dan misi beliau ketika masa kampanye sebelum menjabat sebagai gubernur, banyak memberikan janji-janji manis seperti menyekolahkan 10 ribu pelajar di luar negeri, menyiapkan kapal khusus untuk pelayanan dan kesehatan, namun ketika sudah terpilih dan sudah di penghujung masa jabatannya sebagai gubernur, janji manis itu belum juga terwujud, hanya terkesan janji tinggal janji yang nampak sepanjang dimasa kepemimpinannya,”tegas Alex.
Tetapi selama ini yang ditampilkan di publik hanya bersikap kasar, arogan dan temperamen daripada bekerja untuk rakyat.
Sesungguhnya sebagai pemimpin harus menunjukan teladan kepemimpinan.
Padahal NTT hidup dalam ragam budaya, adat-istiadat serta tata krama yang tinggi, sehingga masyakarat lebih mendambakan sosok pemimpin yang humanis, ramah, paham budaya dan keragaman tau menempatkan diri dalam segala situasi dan kondisi.
Masyarakat NTT seyogyanya menginginkan seorang pemimpin yang selalu membawa air dingin atau panjang sabar, sehingga ketika berada dalamsituasi yang tidak kondusif dan tegang, maka seorang pemimpin harus bisa meredakannya dengan pendekatan humanis atau tegur sapa yang sopan dan bermartabat.
Karena pemimpin yang sesungguhnya adalah seorang yang selalu hadir ditengah kaum marginal dalam segala situasi dan kondisi apapun dengan, senyum sapa yang santun, tidak membangga-banggakan jabatan, tidak muda tersinggung,”ujarnya.
Selain itu juga, pemimpin harus memiliki sifat mengayomi seluruh lapisan masyarakat tanpa membeda-bedakan status atau golongan,”ungkapnya.
Harapan kedepan, dirinya berpesan untuk masyarakat pemilih, mari lebih cerdas dan selektif dalam memilih pemimpin, dan ini juga menjadi tugas utama semua kader PSI dalam mengedukasi warga dengan memberikan pemahaman tentang pemimpin yang baik tanpa harus menghina dan menjelekkan pihak tertentu.
Dan untuk pemimpin NTT kedepannya, harus mawas diri dan lebih paham dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai seorang pemimpin,”imbuhnya.
Mari saling menghargai dalam keragaman,
mari membangun NTT dengan semangat kebersamaan untuk Indonesia yang lebih maju,”tutupnya.
Jurnalis~”Rovyn Tenge”







