“Bencana banjir di Kelurahan Bandar Jaya Barat 1 November 2021 lalu menyisakan pekerjaan rumah. Sejumlah elemen masyarakat menyampaikan gagasan. Kinerja terbaik Lurah juga dinantikan”
LampungTengah (MataRajawali.id) – Masih terbayang di ingatan Syarifudin (40), saat banjir menerjang rumahnya beserta 3 rumah tetangga lainnya, Senin 01 November 2021 lalu. Hujan lebat yang mengguyur Kecamatan Terbanggi Besar hari itu menyebabkan 4 rumah warga RT.05/RW.01 Lingkungan I Kelurahan Bandar Jaya Barat, Kecamatan Terbanggi Besar, terendam banjir hingga selutut orang dewasa.
“Selama 7 tahun saya tinggal disini, baru kali ini hujan lebat sampai menyebabkan banjir,” ujar Udin, sapaan akrab Syarifudin, saat berbincang dikediamannya, Rabu (10/11/2021).
Pria yang sehari-hari bekerja sebagai tukang bangunan ini menuturkan, kejadian banjir di Kelurahan Bandar Jaya Barat hampir 2 pekan lalu berlangsung dengan cepat. Ketika hujan sedang lebat-lebatnya, dia melihat air menggenang halaman rumahnya. Tetapi belum sampai masuk kedalam rumah.
Sempat beberapa kali terdengar suara seperti deburan ombak yang membuncah. Dalam sekejab air bah tiba-tiba masuk kedalam rumahnya. Hanya dalam hitungan menit, debit air yang masuk kedalam rumah semakin banyak.
Menyadari air dengan cepat masuk kedalam rumah, spontan dia mengajak istri dan anaknya bergegas menuju lokasi yang lebih tinggi. Dengan panik, Udin berserta istri dan 3 orang anaknya menyelamatkan diri tanpa sempat mengamankan harta bendanya. Hal yang sama juga dilakukan oleh 3 keluarga lain di sekitar rumahnya.
“Saya tidak sempat bawa barang apapun karena air dalam hitungan menit sudah menutupi stang sepeda motor saya yang ada di dalam rumah. Dalam pikiran saya, yang penting anak dan istri saya selamat dulu,” ucap Udin.
Akibat bencana banjir itu, Udin mengalami kerugian yang tidak sedikit. 2 unit sepeda motor miliknya yang terendam banjir. Alat elektronik seperti televisi dan kulkas miliknya juga mengalami kerusakan akibat terendam air.
Nasib yang sama juga dialami oleh 3 keluarga lainnya yang bertetangga dengan Udin. Ada 3 unit sepeda motor tidak terselamatkan saat banjir. Berbagai alat elektronik seperti televisi dan kulkas, kasur dan sofa, berikut seluruh pakaian terendam oleh ganasnya banjir.
SAMPAH DAN DRAINASE YANG BURUK
Bencana banjir di Kelurahan Bandar Jaya Barat hampir 2 pekan lalu itu mendapat reaksi dari penggiat masalah sosial dan kemasyarakatan Kabupaten Lampung Tengah Ahmat Basuri.
Ketua LSM Gerakan Masyarakat Cinta Tanah Air (GMCTA) Kabupaten Lampung Tengah ini menilai, ada 2 faktor utama yang menyebabkan banjir. Dua faktor utama itu adalah kebiasaan warga membuang sampah sembarangan tempat, dan saluran drainase yang buruk.
Menurut Basuri, kesadaran sebagian warga Kelurahan Bandar Jaya Barat untuk membuang sampah pada tempatnya sangat memprihatinkan. Dirinya kerap melihat sampah menumpuk di sejumlah lokasi. Sampah itu sengaja dibuang oknum warga di lahan kosong. Termasuk di pinggir jalan dekat SMPN 3 Terbanggi Besar, tepat berada diatas gorong-gorong tersumbat yang menyebabkan banjir.
Kendati demikian, Basuri mengatakan bahwa kesalahan tidak sepenuhnya ada di oknum warga. Pihak kelurahan juga harus bertanggung jawab. Karena idealnya, kelurahan menyediakan sarana berupa bak tempat pembuangan sampah sementara di lokasi strategis. Selama ini tempat pembuangan sampah sementara hanya ada di terminal yang masuk wilayah administratif Kelurahan Bandar Jaya Timur.
BELAJAR DARI MASA LALU
Dilanjutkan Basuri, 3 dekade silam Bandar Jaya masih berstatus desa dan belum dipecah jadi 2 Kelurahan yaitu Kelurahan Bandar Jaya Barat dan Kelurahan Bandar Jaya Timur. Pemerintah desa saat itu punya program penanganan sampah yang cukup baik. Warga mengenal dengan sebutan SOKLI.
Di masa kepemimpinan Kepala Desa Bandar Jaya Sopanudin, tiap-tiap rumah warga wajib menyediakan tong sampah yang terbuat dari ban mobil bekas. Ada sejumlah orang dengan menggunakan gerobak mengangkut sampah warga ke tempat pembuangan akhir. Selain itu, di banyak tempat disediakan bak sampah besar. Dalam periode tertentu, bak sampah diangkut oleh mobil truk.
“Bandar Jaya masih berstatus desa saja bisa mengelola sampah. Seharusnya setelah jadi kelurahan managemen pengelolaan sampah bisa lebih baik. Apa salahnya belajar dari masa lalu?” tandasnya.
Dia melanjutkan, dengan dukungan aparatur kelurahan seperti Ketua RT dan Kepala Lingkungan (Kaling), warga perlu diedukasi agar jangan membuang sampah sembarang tempat. Peran warga yang sadar pentingnya kebersihan diberdayakan untuk mencegah oknum warga yang kedapatan akan membuang sampah bukan ditempatnya.
“Memang tidak mudah mengedukasi warga agar tidak membuang sampah sembarang tempat. Tapi setidaknya ada upaya sistematis dan terpogram. Tapi sarana tempat pembuangan sampah sementara harus sudah terlebih dahulu disiapkan,” ujar Basuri, saat ditemui di Sekretariat LSM GMCTA, yang berada di Kelurahan Bandar Jaya Timur.
DRAINASE YANG BURUK
Faktor yang kedua dikatakan Basuri adalah saluran drainase yang harus diperbaiki. Dia mengamati di sejumlah ruas jalan saluran drainasenya buruk. Ada yang tertutup, ada yang ukurannya tidak memadai.
Basuri mencontohkan, saluran drainase di jalan Rasuna Said Lingkungan II Kelurahan Bandar Jaya Barat. Dijalan itu, saluran drainase hanya memiliki lebar sejengkal tangan orang dewasa. Di jalan Rasuna Said itu ketika peristiwa banjir 1 November lalu air masuk kedalam belasan rumah warga.
Basuri menyadari, gagasan yang dia sampaikan tidak mudah dilakukan. Karena semua terkait dengan kesediaan anggaran dan melibatkan peran serta banyak pihak. Sementara di masa pandemi Covid-19, banyak pemangkasan anggaran daerah untuk dialihkan untuk upaya penanggulangan Covid-19.
“Yang diperlukan ada Political Will dari Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah dan Badan Anggaran DPRD. Tapi kreatifitas dan innovasi Lurah Bandar Jaya Barat juga punya andil yang siginifikan. Lurah perlu memberikan kinerja terbaiknya,” tegas Basuri di ujung wawancara.
BANGUN JEMBATAN
Sementara itu, ada gagasan lain diungkapkan oleh Ketua Lembaga Keswadayaan Masyarakat (LKM) Kelurahan Bandar Jaya Barat Jumanto. Dalam upaya pencegahan agar banjir tidak terulang, Jumanto berfokus kepada gorong-gorong yang 1 November lalu tersumbat.
Gorong-gorong dimaksud berada lebung di samping SMPN 3 Terbanggi Besar. Saat peristiwa banjir terjadi gorong-gorong tersumbat oleh sampah. Akibatnya luapan air di lebung tidak mengalir ke lokasi yang lebih rendah. Saat dikerahkan alat berat ekscavator untuk menyingkirkan sampah esok harinya, air yang merendam 4 rumah warga seketika surut.
Menurut Jumanto, ukuran gorong-gorong tidak memadai untuk mengalirkan air dalam jumlah tertentu. Dengan lebar 1 meter dan tinggi 1,5 meter, gorong-gorong tersebut rentan tersumbat oleh sampah dan material lainnya.
Jumanto menyarankan pihak terkait, gorong-gorong itu diperbesar dengan ukuran yang representatif. Bila memungkinkan, jalan digali lebih lebar kemudian dibangun jembatan diatasnya untuk melintas.
“Kalau hanya mengandalkan gorong-gorong yang ukurannya kecil itu, ada kemungkinan dimasa yang akan datang kejadian yang sama (gorong-gorong tersumbat) terjadi lagi,” tutup Jumanto.
Lalu apa dengan pendapat Lurah Bandar Jaya Barat, apakah dia sudah punya konsep atau program pencegahan banjir? Sejauh mana upaya yang sudah dilakukan agar bencana banjir tidak terulang kembali?
Saat diwawancara tertulis via pesan singkat di Whats App, Lurah Bandar Jaya Barat Pebri Eka Yanti memaparkan strateginya dalam upaya mencegah terjadinya banjir di Kelurahan yang dipimpinnya.
Dikatakan Pebri, sebagai kepala pelayan di Kelurahan Bandar Jaya Barat dalam menghadapi musim hujan ini kami mengerahkan segenap potensi aparatur Kelurahan Bandar Jaya Barat. Dengan menghimbau dan mengajak Kepala Lingkungan dan para Ketua RT untuk bergotong royong bersama warga.
Gotong royong dilakukan untuk membersihkan saluran air yang penuh dengan sandimen sampah, maupun sandimen tanah yang menutup saluran air di lingkungan masing-masing. Karena akibat sandimen itu dapat menyumbat saluran air. Hal itu bisa menyebabkan menggenangnya air dibeberapa titik lingkungan
“Tujuannya agar tidak menimbulkan genangan air karena air tidak mengalir pada saluran tersebut,” jelasnya.
Saat ditanya program specifik Kelurahan Bandar Jaya Barat untuk mencegah terjadinya banjir, Lurah wanita pertama di Kelurahan Bandar Jaya Barat ini memberikan jawaban diplomatis.
Dikatakan Pebri, program spesifiknya kami hanya mampu mengoptimalkan kegiatan gotong royong bersama warga. Karena untuk program dan rencana pembangunan drainase maupun yang lainnya, Kelurahan Bandar Jaya Barat sebatas berupaya mengusulkan pembangunannya ke pemerintah daerah dan instansi terkait.
Dia melanjutkan, untuk pembenahan drainase di tahun 2022 mendatang kami sangat mengharapkan sekali usulan-usulan warga. Usulan tersebut kami bahas melalui Musrenbang kelurahan terkait drainase.
“Semoga usulan tersebut dapat direalisasikan oleh Pemerintah Daerah dan instansi terkait. Sehingga di Tahun 2022 nanti kami dapat membenahi drainase lingkungan,” ujarnya.
Ditanya kewenangan pengelolaan sampah, Pebri mengungkapkan bahwa kewenangan Kelurahan Bandar Jaya Barat terkait sampah sudah ditangani oleh dinas Lingkungan Hidup. Kelurahan Bandar Jaya Barat sebatas menghimbau masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya. Tindak lanjut berikutnya merupakan kewenangan Dinas Lingkungan Hidup dalam pembuangannya.
Masih kata Pebri, kami selalu mengedukasi warga melalui aparat pamong se-Bandar Jaya Barat untuk selalu menjaga kebersihan di lingkungannya. Termasuk menggiatkan gotong royong agar tercipta lingkungan yang bersih. Dan kami juga melakukan upaya pemanfaatan lahan kosong oleh KWT (Kelompok Wanita Tani).
“Tujuan pemanfaatan lahan itu agar tidak digunakan membuang sampah oleh orang-orang yang membuang sampah sembarangan. Ingat, kebersihan adalah sebagian dari iman,” pungkas Pebri.
Memang tidak sederhana mewujudkan sebuah program pembangunan ditengah keterbatasan anggaran. Setidaknya ada upaya konsisten dan sistematis untuk memulainya. Sejumlah gagasan elemen masyarakat ini mungkin perlu kajian secara ilmiah. Sisi positifnya, masih banyak warga Lampung Tengah yang peduli kepada daerahnya.
Menyalahkan warga bukan sebuah solusi. Tapi tidak elok juga menumpukan kepada Lurah Bandar Jaya Barat atas semua bencana alam yang terjadi. Semua pihak harus bersinergi agar Kelurahan Bandar Jaya Barat menjadi lebih baik lagi. Tentunya warga juga menantikan kinerja terbaik Lurah Pebri Eka Yanti. Semangat terus bu Lurah… !
Laporan : Willy Dirgantara







