Jember (matarajawali.id)-Mengenal Sejarah di salah satu Ponpes tertua di Kabupaten Jember Provinsi Jawa Timur, terlihat para santri-santri ramai berolahraga di lapangan pondok, wartawan Matarajawali.id berbincang-bincang dengan pimpinan pondok di teras masjid. 09-11-2021
“Pondok Al-Ikhlash – Dukuh Dempok – Wuluhan – Jember ini secara resmi dimulai tahun 1973, adapun sebelum itu pondok secara shorogan atau tradisional, itu dirintis sejak tahun 1930 an (1931-1933) atau sama dengan berdirinya masjid ini (masjid Al-Muhtarom 1931-1933).
Tutur mudir (direktur) putra pondok pesantren Al-Ikhlash Wuluhan Jember yang bernama ust. H. Amali, Lc menerangkan sejarah pondoknya.
“Dan setelah tahun 1973 itu dimulai klasikal sampai hari ini, secara formal anak-anak (santri-red) diikutkan ujian nasional.” Tuturnya.
“Untuk pendirinya ada ustadz Syarif, ustadz Qoyim, ustadz Nahrowi, itu yg model klasikal. Adapun sebelum itu, sistem tradisional mulai zaman mbah kami, mbah Syarif dan mbah Muhtarom itu tahun 1930 an awal.” Tutur cucu pendiri pondok itu lagi.
“Untuk sekarang pondok dengan berbagai perkembangan yang ada, kita menyesuaikan dengan kebutuhan. Sistem pendidikannya adalah sistem pendidikan modern, dilengkapi dengan program tahfidz (menghafal Al-Qur’an), muhadhoroh (ilmu pidato), ilmu komunikasi dan ketrampilan yang lain berkaitan dengan pekerjaan. Untuk tahfidz, minimal lulus hafal 7 juz.” Jelasnya lagi.
“Santri ada berasal dari Jember, Banyuwangi, Bali, Sulawesi dan Jakarta. Jumlah santri 300an putra dan putri” tambahnya lagi melanjutkan.
Kemudian wartawan Matarajawali.id berbincang dengan salah satu santri yang bernama M. Aldiansyah asal daerah Pasuruan.
“Alhamdulillah lingkungan mendukung pendidikan, tidak terlalu berisik seperti di kota. Teman-teman mendukung semua. Sekarang sudah kelas IV (1 SLTA), dulu tahu pondok ini dari om.” Tuturnya.
Ditanya prestasi jawabnya lagi.
“Kmarin pernah juara I (satu) lomba bahasa Inggris dan munaqosah (tes hafal) Al-Qur’an. In syaa Allah hafal hampir 7 juz.” Tuturnya lagi.
Demikian liputan kami dari pedesaan Jember selatan, yang jaraknya sekitar 10km dari pantai papuma Jember. (Mbah Erqin)







