
JOGJA (matarajawali.id) – Pemkab Sleman akhirnya menetapkan lahan seluas 1 hektar di Kelurahan Tamanmartani, Kalasan, sebagai tempat penitipan sampah sementara (TPSS). Sampah-sampah rumah tangga yang dipastikan akan mulai terangkut pada pekan depan.
Epiphana Kristiyani, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman pada hari ini (Jumat, 4/8/2023), menjelaskan bahwa lokasi untuk tempat penitipan sampah tidak jadi di TPST Tamanmartani, dikarenakan pengerjaannya hingga kini belum selesai.
“Kalau di TPST kami sudah terlanjur lelang, dokumen lelang sudah jelas kapan konstruksi, kapan diserahkan,” ujar Epi
Maka dengan bantuan Lurah Tamanmartani, akhirnya DLH Sleman mendapat lahan 1 hektar yang juga merupakan Sultan Ground, tepatnya di sebelah utara tak jauh dari TPST Tamanmartani. Saat ini pihak DLH Sleman sudah mulai mengerjakan untuk penyiapan lahan termasuk sosialisasi ke masyarakat sekitar sejak awal minggu ini.
Berdasarkan pengamatan mataeajawali Yogyakarta di lokasi, penyiapan lahan yang mencakup pembukaan akses jalan, penggalian tempat penampungan sedalam sekitar 2 meter dan penebangan pohon di sekitar lokasi sudah terlihat progresnya. Sementara untuk geomembran yang nantinya akan digunakan sebagai pelapis tanah juga sudah terlihat di lokasi, meski belum terpasang.
Dari perkembangan hingga hari ini, Epi menargetkan secepatnya pekan depan, lahan tersebut sudah bisa digunakan. “Harapannya minggu depan sudah. Kami berusaha kemarin sudah mulai membangun di sana. Harapannya minggu depan sudah dipakai,” kataya.
Sedangkan dari hasil sosialisasi dengan warga masyarakat di sekitar lokasi, disepakati penggunaan lahan tersebut hanya bisa menampung maksimal 50 ton per hari atau 10 truk milik DLH Sleman saja. Selain itu warga juga meminta agar sampah-sampah tersebut tidak menimbulkan bau bagi lingkungan sekitarnya.
Data dari DLH Sleman sendiri , pada Juni 2023, rata-rata sampah Sleman menghasilkan 254 ton sehari yang diangkut ke TPA Piyungan. Maka dengan adanya pembatasan 10 ton per hari ini, pihaknya akan memberlakukan prioritas sampah yang dibuang serta menjadwalkan penjemputan sampah rumah tangga ke transfer depo.
Adapun sampah yang menjadi prioritas antara lain; sampah rumah sakit, hotel, perkantoran dan sebagainya. Sementara untuk sampah rumah tangga, Epi berharap sudah ada pemilahan, pengolahan dan pengurangan sampah terlebih dulu, sehingga hanya menyisakan sampah residu dan jumlahnya tidak sebanyak biasanya.
Sampah rumah tangga yang nantinya akan mulai diangkut ke transfer depo, sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan. Di Sleman saat ini ada sebanyak 14 transfer depo dengan jadwal operasional mulai pekan depan paling banyak seminggu tiga kali.
Petugas di transfer depo juga sudah mulai mensosialisasikan jadwal operasional ini kepada para pengangkut sampah rumah tangga. Dengan sistem ini, diharapkan nantinya volume sampah yang dibuang ke tempat penitipan bisa ditekan hingga 10 ton per hari. Kemudian untuk mengantisipasi persoalan bau, DLH Sleman akan menyiapkan ecolindi.
“Kami juga harus siapkan mol, karena harapannya kalau sampah organik di sana dengan mol akan mempercepat proses menjadi kompos,” papar Epi. (Bachtiar)






