Warga Desa Hameli Ate Keluhkan Bantuan Sumur Bor Tak Berfungsi

Foto: Warga Desa Hameli Ate Keluhkan Bantuan Sumur Bor Tak Berfungsi. (Ist)

Kodi Utara (matarajawali.id)-Kehidupan yang berada di Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) rupanya tidak menjamin adanya kesejahteraan bagi masyarakat.

Meskipun berbagai pembangunan, fasilitas serta sarana dan prasarana dilakukan oleh pemerintah daerah untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya, namun tentu saja hal itu tidak dapat dirasakan warga secara merata.

Begitupun yang dialami oleh masyarakat, Desa Hameli Ate, Kecamatan Kodi Utara, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dimana hampir setahun berjalan air sumur bor tidak berfungsi. Dan sebagian penduduk dilingkungan terpaksa membeli air ditangki.

Disampaikan oleh Rafael Ra Tanggu (60), warga Dusun IV, Desa Hameli Ate, kepada media ini dan mengatakan, semenjak setahun berjalan, mesin tersebut diambil oleh Agustinus Wakur Kaka, kami sudah kekurangan air bersih dan bermodalkan membeli air di tangki.

“Padahal sumur bor ini merupakan bantuan dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten SBD di tahun 2021 untuk masyarakat, dan bukan untuk milik pribadi”imbuhnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, dimana awalnya salah satu anak dari Agustinus Wakur Kaka alias (Oan) ingin mengambil mesin tersebut. Karena pihaknya meyakini sumur bor itu bukan milik pribadi tetapi milik umum. Kemudian tanpa melalui ijin terhadap kelompok atau warga sekitar. Sehingga pihaknya melarang untuk diambil mesinnya.

“Namun keesokan harinya, Agustinus Wakur Kaka bersama seorang temannya mendatangi kembali menggunakan kendaraan roda empat. Sesuai pengakuannya kepada Rafael Ra Tanggu dan Yakobus Ra Mete, saya sudah meminta ijin pakai kepada pengurus kelompok.

“Dari pengakuan itu, pihaknya perbolehkan untuk mengambil mesin tersebut. Tetapi pihaknya meminta, setelah digunakan harus dikembalikan dalam waktu dekat. Karena kalau terlalu lama, kami kewalahan air bersih,”mintanya.

Tetapi dengan berjalannya waktu beberapa bulan kemudian, yang bersangkutan belum juga mengembalikan mesin tersebut,”imbuhnya.

Disamping itu juga, selaku warga Dusun IV, Yakobus Ra Mete (34), ia juga menjelaskan, mengingat mesin tersebut belum dikembalikan dengan waktu yang sudah cukup lama, dan kewalahan air bersih. Pihaknya mendatangi kediaman Agustinus Wakur Kaka di Pantura, Bilu, Desa Hameli Ate, namun yang bersangkutan tidak lagi ditempat.

“Dihari yang sama, ia juga mendatangi kediamannya di Bungga, Desa Mangganipi, yang bersangkutan juga tidak lagi ditempat. Sesuai pengakuan Istrinya, ia lagi keluar,”jelasnya.

Pihaknyapun berusaha dan menghubungi melalui via telepon miliknya. Dari pengakuannya, ia mengatakan untuk sementara mesin tersebut masih digunakan. Dan menambahi, lagian kan masih ada air hujan,”imbuhnya.

Lebih lanjut, Kobus juga mengatakan, sekitar dua bulan kemudian, ia mendatangi dan bertemu kembali Agustinus Wakur Kaka. Dimana pengakuannya, kendaraan roda empat masih keluar dan sedang memuat batu putih. Jadi sekitar sore hari baru saya mengantar mesinnya. Setelah ditunggu lama, juga belum kunjung datang,”terangnya.

Kemudian sekitar satu bulan berikut didiamkan, pihaknya kembali mendatangi yang bersangkutan. Dengan jawaban, mesin belum bisa dikembalikan dengan alasan kunci kontak mesin sudah terbakar karena digunakan untuk memotong besi,”tandasnya lagi.

Dua hari kemudian, karena pihaknya tetap tidak merasa puas dengan alasan tersebut. Pihaknya mengadu secara lisan ke Kades Hameli Ate, Oktavianus Bengo Daha, Jumat (3/2022) sekitar siang. Kades langsung menindaklanjuti dan menghubungi Agustinus Wakur Kaka melalui via telepon. Sambil mengatakan warga ada datang mengadu, dan mempertanyakan mesinnya. Namun jawab Agustinus Wakur Kaka menyuruh Kades silakan mempertanyakan ke Ketua Pengurus Kelompok. Jawab Kades, saya pertanyakan bukan soal itu, tetapi yang saya pertanyakan, mesinnya,”jelas Kades ungkapnya.

Karena tidak ada jawaban, Kades menjelaskan ke kami warga, kami Pemerintah Desa akan terus menindaklanjuti persoalan tersebut, karena ini menyangkut kebutuhan primer masyarakat,”tandasnya.

Dalam waktu yang sama, sekitar jam sore, kami berkumpul di tempat sumur bor. Karena menilai hasil yang kami perjuangkan selama ini, tidak ada realisasi setelah dilakukan pendekatan persuasif. Sehingga pihaknya mengakui, yang meminta beberapa aktivis, Tim Creator YouTube, dan Pers untuk hadir membuat sebuah video keluhan untuk dipublikasikan. Dengan tujuan agar Pemda dan pihak terkait membuka mata dan ditindaklanjuti. Karena ini merupakan salah satu program unggulan Tujuh Jembatan Emas (P7JE) Desa berair. Sehingga pihaknya meminta agar mesin tersebut dapat dikembalikan, dan boleh menikmati kembali air bersih,”tutupnya.

Setelah media ini mengkonfirmasi secara virtual melalui via WhatsApp, Minggu (5/6/2022), selaku Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten SBD, Agustinus Wakur Kaka, ia mengakui dan membenarkan bahwa mesin tersebut dirinya yang telah mengambilnya, dan saat ini mesin sedang saya gunakan,”jelasnya.

Karena pembangunan sumur bor itu untuk kepentingan kelompok dan kepentingan umum. Mesin saya kembalikan, namun ada syaratnya, dimana diselesaikan dulu pekerjaannya sumur bornya. Karena sampai dengan saat ini, tubuh keran air belum dibangun. Kemudian harus dipertanggungjawabkan harga material yang saya turunkan (6 Ret Batu Karang dan 6 Ret Pasir Laut),”mintanya.

Terkait kerusakan mesin yang saya jelaskan ketika mereka datang dan pertanyakan soal itu, betul saya sampaikan kepada mereka bahwa kunci kontak mesinnya sedang rusak,”imbuhnya.

Lebih lanjut ia juga mengatakan, bahwa yang mengusulkan adanya sumur bor di desa Hameli Ate melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan SBD.

“Dan sasaran atau titik koordinat tempat kegiatan itu bukan di tanah saya sesungguhnya.
Mestinya kegiatan itu ada di sebelah Kampung Luku, Dusun IV, Desa Hameli Ate arah kebunnya dr. Kornelius Kodi Mete. Tetapi didalam perjalanan setelah Tim yang mendeteksi air itu, tidak ditemukan, maka dialihkan ke kebun saya, dan titik airnya disitu. Setelah saya ditanyakan oleh Tim deteksi, apakah sumur bor mau ditempatkan dikebun itu, saya katakan bersedia sehingga berada di lokasi saya,”ungkapnya.

Terkait hibah atau tidak, pada akhirnya saya tetap hibahkan tanah lokasi sumur bor. Dan Kemungkinan dana itu bersumber dari APBN dengan besaran anggaran pembangunan itu, diperkirakan dibawah Rp.100 juta,”imbuhnya.

Jurnalis~”Rovyn Tenge”