Lampung Tengah (matarajawali.id)- Murai Batu adalah salah satu jenis burung kicau yang mempunyai banyak penggemar. Burung yang kicaunya cukup merdu ini menjadi burung peliharaan para penghoby. Tidak jarang burung murai batu dipertandingkan dalam berbagai kompetisi. Pemenangnya tidak hanya mendapatkan hadiah, tetapi juga mendapatkan sebuah kebanggaan. Nantinya otomatis nilai jual burung murai batu milik sang pemenang menjadi meningkat drastis.
Bagi para penggemar burung kicau, kemerduan suara kicauan burung murai batu adalah sebuah nilai tersendiri. Jika burung murai batu mempunyai kicauan yang merdu, para penghobi burung kicau tak segan membeli dengan harga mahal. Tidak jarang ada seekor burung murai batu dijual dengan harga ratusan juta rupiah per ekor.
Nilai ekonomi burung murai batu yang tinggi, ditambah dengan minat penghobi burung kicau untuk memelihara burung murai batu dijadikan ladang bisnis bagi segelintir orang. Dengan pengetahuan dan keahlian yang memadai, ternyata bisnis penangkaran burung murai batu cukup menguntungkan.
Di Dusun I, Kampung Adi Jaya, Kecamatan Terbanggi Besar, Kabupaten Lampung Tengah, seorang warga setempat berinisiatif untuk membangun usaha penangkaran burung murai batu. Adalah Afik Bagus Suprobo, pria kelahiran 41 tahun lalu ini sudah menggeluti bisnis penangkaran burung murai batu sejak 5 tahun yang lalu.
Afik, sapaan pria ini mengakui, pada dasarnya dia bukan penghobi burung. Bahkan sebelum menggeluti bisnis penangkaran burung, Afik belum pernah sekalipun memelihara burung kicau. Motivasinya mendirikan usaha penangkaran burung murai batu murni tujuan bisnis.
Dia beralasan nilai ekonomi burung murai batu yang cukup tinggi menarik minatnya. Sejumlah keuntung yang besar terbayang di pikirannya. Menurut Afik, menangkar burung murai batu tidak rumit seperti memelihara ternak lainnya. Dari sisi modal usaha, penangkaran burung murai batu bisa dilakukan dengan modal seminimal mungkin.
Dituturkan Afik, sebelum memulai usaha dia mempelajari tehnik menangkar burung murai batu dari berbagai sumber. Dia tak sungkan bertanya kepada orang yang sudah melakukan penangkaran burung murai batu lainnya. Demi memuaskan rasa ingin tahunya, dia belajar kepada lebih dari 50 orang penangkar di Lampung sampai pulau Jawa.
“Ilmu ini tertutup. Tidak semua penangkar mau jawab. Kalau toh dijawab, tidak semua jawaban itu betul. Jadi kita harus mengumpulkan informasi sebanyak mungkin, kemudian nanti kita kan menemukan akurasinya,” jelas Afik.
Masih kata Afik, setelah ilmu penangkaran burung murai yang didapatkan dirasa cukup baru dia membuat kandang penangkaran. Tidak lama setelah buat kandang, 3 bulan kemudian produksi burung murai batu yang pertama. Usaha penangkaran ini dilakukan sejak 5 tahun yang lalu.
Ditanya potensi keuntungan penangkaran burung murai batu, Afik memberikan gambaran sederhana. Menurut Afik, burung murai indukan tidak dia hitung sebagai modal. Karena bisa terjadi penyusutan kalau dihitung modal. Sementara indukan tetap bernilai kembali ketika dijual. Kecuali faktor lain seperti indukan tersebut mati.
Modal dalam versi Afik adalah biaya membuat kandang penangkaran dan pakan. Dia mengaku, diawal membangun bisnis penangkaran menghabiskan modal sebesar 30 juta rupiah. Biaya itu digunakan untuk membangun pagar, kandang, dan indukan sebanyak 2 pasang. Hanya dalam tempo 3 bulan indukan yang ditangkarnya sudah produksi.
Modal yang paling besar untuk biaya membangun kandang. Waktu itu dia dihadapkan oleh 2 pilihan. Yaitu bikin kandang yang bagus, atau beli materi tangkar yang bagus. Burung murai batu indukan yang kualitas bagus bisa dibeli dengan harga 2 juta rupiah.
Karena merasa masih pemula, Afik memutuskan tidak membeli bakal indukan yang harganya mahal. Dia cenderung investasi membangun kandang. Diawal bisnis Afik membuat 18 kandang sekaligus. Kemudian dia beli burung murai batu indukan dengan biaya tidak lebih dari 7 juta.
“Ditahun pertama dengan induk 4 pasang saya sudah balik modal,” tandasnya.
Sementara untuk biaya pakan, burung murai batu tidak memerlukan modal banyak. Cukup 50 ribu rupiah dalam sebulan untuk kebutuhan sepasang burung murai batu. Bahkan biaya pakan itu dia tekan dengan cara membuat pakan sendiri. Di penangkaran burung murai batu miliknya, Afik merogoh kocek sebesar 800 ribu sebulan untuk mengidupi 100 ekor lebih.
Mengenai pemasaran burung murai batu, dia mengandalkan sejumlah orang koneksinya dari para penghobi burung kicau. Penghobi yang disebutnya “pemain gantangan” tidak hanya dari Lampung, bahkan dia punya banyak koneksi pemain gantangan di Pulau Jawa.
Harga jual murai batu dijelaskan Afik dibagi dalam 2 segmen. Yakni di pasar burung yang relatif tetap harganya, dan kepada pemain gantangan yang cenderung berani membeli lebih mahal. Mahal murahnya burung murai batu ditaksir oleh pemain gantangan tergantung kualitas burung tersebut.
Owner penangkaran burung murai batu “Kebon Manuk’ yang berlokasi di Kampung Adi Jaya, Kecamatan Terbanggi Besar ini mengatakan, perawatan burung murai batu relatif mudah. Meskipun demikian dia mengingatkan bahwa setiap penangkar punya resep masing-masing.
Untuk perawatan burung murai batu miliknya hanya cukup beri makan 1 kali sehari setiap pagi. Kemudian ganti air minum 1 kali sehari, lalu bersihin kotoran setiap 3 hari sekali dan beri vitamin. Selanjutnya semprot disenfektan agar burung murai batu tidak mudah sakit. Semua itu dilakukan konsisten waktunya.
“Misal dilakukan jam 7 pagi, selanjutnya harus dilakukan jam 7 dan seterusnya. Kalau waktunya berubah bisa membuat burung tidak nyaman,” tegasnya, saat ditemui di kediamannya, Kamis (21/04/2022).
Ditanya apakah ada izin khusus untuk usaha penangkaran, Afik menjawab bahwa idealnya setiap usaha penangkaran diperlukan izin dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Untuk mengurus izin usaha penangkaran tidak terlalu sulit. Hanya membutuhkan biaya 500 ribu yang akan masuk kas negara.
Setelah permohonan izin diajukan, kemudian dilakukan survey kelayakan kandang oleh Tim penilik dari BKSDA. Yang wajib dilaporkan adalah asal usul indukan termasuk kuitansi pembelian. Selain itu akan dinilai kualitas kandang yang harus memenuhi standar, sanitasi serta sirkulasi udara harus bagus. Usaha penangkaran burung miliknya diungkapkan Afik sudah mengantongi izin dari BKSDA sejak 5 tahun silam.
Menurut Afik, usaha penangkaran burung murai batu saat ini masih menguntungkan. Karena begitu mulai produksi dalam kurun waktu 2 bulan, sekali produksi langsung bisa kembalikan modal induknya
Bagi yang berminat berbisnis penangkaran burung murai batu Afik menyarankan, agar mengali ilmu sebanyak mungkin terlebih dahulu. Jangan memutuskan memulai usaha tanpa pengetahuan yang cukup. Karena hal itu bisa membuang-buang waktu dan biaya.
“Ternak murai batu kalau cukup pengetahuannya itu mudah. Kalau gak cukup jadi sulit,” jelas Afik.
Dia menuturkan, menggali ilmu penangkaran burung murai batu bisa dari banyak sumber seperti Facebook, You Tube atau kepada penangkar lainnya. Biasanya, kalau membeli indukan di penangkar juga di mentorin oleh penangkar tersebut.
Masih kata Afik, untuk pemula yang memulai usaha penangkaran burung murai batu bisa dengan modal seminimal mungkin. Dia memberikan gambaran, burung murai batu siap produksi yang dengan kualitas standar bisa dibeli dengan harga 3 juta sepasang. Harga itu dengan rincian 2 juta rupiah burung pejantan, yang betina seharga 1,5 juta. Biaya membuat kandang tidak lebih dari 1 juta rupiah perkandangnya. Dengan catatan sudah tersedia ruangan untuk meletakkan kandang.
“Misalkan ingin buat 3 kandang, uang 15 juta cukup,” ujar Afik.
Kalau ingin biayanya lebih murah lagi bisa dilakukan dengan cara memelihara dari trotol (burung anakan). Beli trotol kelas biasa-biasa saja cukup 1 juta untuk pejantan, dan yang betinanya 500 ribu rupiah. Sementara biaya membuat kandang sederhana dengan biaya 500 ribu per plong sudah cukup.
“Total diperlukan minimal modal 2 juta rupiah untuk 1 pasang penangkaran burung murai batu,” pungkas Afik.
(Willy Dirgantara)







