Amat Untung, Tokoh Penting Dibalik Pemekaran Kampung Bumi Mas

Foto: Amat Untung, Tokoh Penting Dibalik Pemekaran Kampung Bumi Mas. (Willy)

Lampung Tengah (matarajawali.id) – Kampung Bumi Mas mulanya bagian dari Kampung Bumi Kencana, Kecamatan Seputih Agung. Atas keinginan warga, Kampung Bumi Mas diusulkan untuk dimekarkan. Ternyata dibalik itu, ada peran strategis seseorang yang bernama Amat Untung.

Kampung Bumi Mas yang masuk dalam wilayah Kecamatan Seputih Agung ini, berjarak sekitar 3 kilometer dari jalan Lintas Sumatera. Dengan jumlah penduduk yang relatif sedikit, Kampung yang terbilang muda ini berhasil memisahkan diri dari kampung Induknya.

Usaha pemekaran Kampung Bumi Mas tidak lepas dari berbagai kendala. Selain diragukan oleh banyak pihak, jumlah penduduk yang sedikit sempat menjadi hambatan. Dorongan dari Amat Untung menjawab semua keraguan tersebut.

“Saya yakin, kalau niat kita baik insha Allah hasil yang kita dapat juga baik,” ujar Amat Untung, memulai percakapan.

Pria yang kini menjabat sebagai Kepala Kampung Bumi Mas ini menuturkan, awalnya saya merasa pembangunan di wilayah Bumi Mas sebelum pemekaran sangat tertinggal. Jarang sekali ada pembangunan infrastruktur. Kemudian saya bersama sejumlah warga sepakat untuk mengajukan pemekaran Kampung.

Pria kelahiran Bumi Mas 52 tahun silam ini melanjutkan, dulu saat menjelang pemekaran selain panitia ada peran sejumlah warga. Saya menguatkan keinginan warga agar segera pemekaran. Banyak yang meragukan pemekaran bisa lakukan. Karena banyak faktor, terutama menyangkut biaya.

“Kalau tidak dikuatkan, tidak jadi pemekaran kampung Bumi Mas ini,” ujar alumni Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Terbanggi Besar ini.

Permasalahan biaya menjadi pemicu keraguan warga yang berjuang untuk pemekaran Kampung Bumi Mas. Karena kebutuhan transportasi dan administrasi membutuhkan biaya yang cukup besar. Disisi lain, para warga juga harus memikirkan kebutuhan keluarga masing-masing.

“Saya tetap menguatkan kawan-kawan lain agar terus berjuang untuk pemekaran. Soal biaya kita tanggung bersama-sama,” ungkapnya.

Ditanya biaya yang dikeluarkan untuk pemekaran, Amat Untung menyebut angka 300 juta rupiah. Jumlah tersebut didapat dari iuran dan sumbangan para donatur. Selain itu dia juga rela merogoh kocek pribadinya. Tapi saat ditanya jumlah nominal uang pribadi yang dia keluarkan untuk pemekaran, Amat Untung tidak menyebut angka pasti.

“Kalau saya hanya menutupi kekurangan. Tapi saya sempat jual sapi. Sebab kalau tidak begitu tidak jalan pemekaran ini,” imbuhnya.

Menjelang pemekaran Kampung Bumi Mas, Amat Untung bersama warga lain berjibaku menyusun perangkat Kampung. Mulai dari RT, Dusun, Linmas, Kaur, BPK, LMPK dan Karang Taruna. Termasuk menyediakan lokasi lapangan volly, lapangan sepak bola dan keseluruhan fasilitas umum lainnya.

Kendala muncul, karena saat penyusunan perangkat Kampung sempat kekurangan personil. Warga yang berjuang untuk pemekaran kampung menyatakan keberatan menduduki jabatan tertentu. Karena banyak warga yang tidak menguasai komputer.

“Sebanyak 700 Kepala Keluarga seperti kehabisan anak muda yang bisa menguasai komputer,” tandasnya, mengenang perjuangan pemekaran kampung 10 tahun silam.

Dikatakan Amat Untung, banyak yang meragukan pemekaran Kampung Bumi Mas bisa berhasil. Bahkan Kepala Kampung Bumi Kencana Supriono sebagai Kampung induk sempat meragukan. Tapi dirinya dan warga lain tetap bersikeras.

Keraguan pemekaran Kampung Bumi Mas bisa berhasil pernah diungkapkan juga oleh seorang pejabat Pemkab Lampung Tengah. Amat Untung mendengar langsung keraguan pejabat tersebut saat mengurus pengajuan pemekaran kampung.

Sebab ketika itu, ada morotarium Gubernur Lampung Ridho Fichardo yang menangguhkan pemekaran wilayah di Provinsi Lampung. Dengan berbagai usaha kerasnya, akhirnya Kampung Bumi Mas berhasil terpisah dari kampung induknya yakni Kampung Bumi Kencana.

“Pengesahan pemekaran Kampung oleh DPRD Kabupaten Lampung Tengah Tahun 2013. Ditetapkan sebagai Kampung definitif Tahun 2015,” jelasnya, saat ditemui di Kantor Kampung Bumi Mas, Selasa (15/03/2022).

Setelah pemekaran Kampung Bumi Mas dan ditetapkan sebagai Kampung definitif Tahun 2015, diangkat pejabat sementara Kepala Kampung selama 1 tahun. Di Tahun 2016 digelar pemilihan Kepala Kampung secara langsung.

Ditahun yang sama, Amat Untung diminta warga untuk mencalonkan sebagai Kepala Kampung. Karena perannya yang signifikan dalam pemekaran kampung, saat penghitungan suara Amat Untung meraih 90 persen lebih dari total suara sah.

“Ibarat dalam sebuah keluarga, selalu ada anggota keluarga yang menguatkan. Seperti halnya pemekaran kampung, kalau tidak ada yang menguatkan tidak jadi,” pungkasnya. (Willy Dirgantara).

BAGIKAN