Jember (matarajawali.id)- industri Genteng yang terletak di jalan raya Ambulu yang meliputi Kecamatan Wuluhan dan Ambulu Kabupaten Jember merupakan salah satu industri genteng terkenal hingga luar daerah.
Untuk diketahui Industri genteng di Kecamatan tersebut sudah berdiri sejak lama dan turun temurun hingga saat ini.
Salah satunya adalah UD. Ragil Jaya yang beralamat di Jalan Raya. Ambulu no. 76 RT : 004 / RW : 005 Desa Tamansari Krajan (Gentenga ) Depan masjid Assalam, kec. Wuluhan kab. Jember. Adapun jenis genteng yang dijualnya adalah Genteng karang pilang, mantili gelang, flat dan pelur/ wuwung. masih banyak lagi jenis genteng di pasarkan.
“Cara membedakan genteng yang bagus yaitu : 1. Tidak ada retakan dibagian tengah maupun pinggir. 2. Cetakannya padat dan halus ( karena ada juga yg cetakannya lobang-lobang sehingga terjadi rembesan saat di pasang ) 3. Warna genteng merah matang bukan kuning atau gosong karena kalau kuning masih mentah dan rawan pecah saat kena hujan dan panas, adapun yg gosong kondisi gentengnya susut baik secara ukuran panjang maupun lebar. 4. Ketika di ketuk gentengnya bersuara nyaring ” Teng2″ bukan bersuara ” tek2″.” Jelas Faht Jauzi
Sementara itu dijelaskan Amry.S,S.Pd.I putra dari pendiri Ragil Jaya, menanggapi adanya genteng Ambulu yang kurang bagus dipasaran Faht menerangkan, garapan bagus dan tidak itu sesuai karakter orangnya, ada yang telaten dia mengerjakan genteng dengan rapi, persisi dan halus dan ada juga yang mengerjakan dengan kasar, kurang rapi, lubang-lubang dibiarkan dan lain-lain.
” Terkait jumlah karyawan dan pemasaran ada sekitar 18 orang dan pengirimannya kita sendiri sudah sampai Bali, Banyuwangi, Jember, Lumajang, Probolinggo dan Malang.” Jawabnya.
Ambulu itu pecahan orang-orang Tamansari yang membuka industri disana, supaya dekat dengan bahan baku tanahnya, untuk meminimalisir biaya operasional. Tamansari lebih awal sebagai sentra industri kerajinan genteng. Ragil Jaya berdiri sejak tahun 2005 bapak mulai merintis usaha atas nama Ragil Jaya, dulunya pake merk yang umum dan tidak ada hak paten seperti, Mitra ambulu, mantili, lestari dan lain-lain. Kalau bapak sejak masih kecil sudah buat genteng.” Tuturnya.
Pak Supardi ayah Faht mengatakan selalu mengecek ke pelanggannya yang membeli gentengnya. “Pernah saya tarik 4,000 genteng karena saya ketok seperti kurang matang khawatir bocor dan pembeli kaget kenapa ditarik pak, “saya jawab kurang sreg. Di Lumajang juga saya telusuri yang pakai genteng Ragil Jaya ada yang bocor pak? Tidak ada katanya (pembeli). Terangnya. (mbah ERQIN)







