Kecamatan Kodi (matarajawali.id)-Nasib Agustinus Bora Dairo masih beruntung dimana, Sekolah SD Lolo Alle, Kecamatan Wewewa Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya, Provinsi Nusa Tenggara Timur, yang dekat dari rumah memperlakukan kriteria batas usia penerimaan siswa baru masuk sekolah Dasar (SD) diwaktu itu, Rabu 27/10/2021.
Agustinus Bora Dairo, S.Kom,
Tempat dan Tanggal Lahir Lolo Alle 09 September 1994, Alamat Lolo Alle, Desa Weekombak, Kecamatan Wewewa Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya, Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Agus mengisahkan masa lalunya putus sekolah 2 tahun karena masalah keluarga,
tahun 2002 Agus yang sudah berumur 10 tahun 8 bulan, saat itu ingin membuka lembaran baru untuk masuk sekolah lagi, namun, keinginannya kandas, dimana di Sekolah SD Lolo Alle di tolak karena alasan faktor usia.
” Agus merasa sedih di tolak karena sudah ingin sekali mau sekolah, dan sudah beli baju seragam lengkap, karena satu-satunya sekolah yang dekat dari rumahnya.
Agus berharap di terima, karena sebelumnya sudah sekolah di sekolah yang sama selama 2 tahun yaitu tahun 1998 dan 1999, karena merasa tidak puas atas keinginan besar mau sekolah, akhirnya saudara dari Agus pergi bareng untuk mendaftar ke sekolah yang jauh dari SDK Weekombak II, yang jarak dari rumah kurang dari 4 Kilometer, di SDK Weekombak II tidak di persoalkan masalah umur tapi di permasalahkan jarak karena jarak dari rumah ke sekolah harus menempuh jalan kaki kurang dari empat kilometer.
Agus mengaku, salah satu syarat saya di terima sebagai siswa baru adalah, harus menumpang di rumah Kaka saudara yang dekat dengan sekolah itu, karena tidak betah di rumah kaka saudaranya, akhirnya terpaksa harus tinggal di rumah sendiri dan menempuh jalan kaki 4 kilometer tiap hari.
Walaupun sekolahnya jauh ,Agus merasa sangat senang karena banyak teman-temannya dan membuat jarang sekali Absen, tapi saya sedikit minder ke teman-teman sebaya saya yang sudah SMP apa lagi saya sudah besar dari mereka, sedikit cerita tentang disiplin, kata Agus.
“Sebelum jam 06:00 pagi sudah mulai berangkat ke sekolah, tapi tetap saja sering datang terlambat dan sering mendapatkan hukuman dari Guru, saat pulang dari sekolah Agus harus menahan lapar dan haus, kadang kerja bakti siswa di wajibkan bawa bambu atau patok dari rumah untuk pembuatan pagar di sekolah, saya harus pikul bambu dari rumah ke sekolah, uniknya, Agus tidak mau mengeluh, bahkan menjalani keadaan dengan gembira sambil yakin bahwa ia akan menjadi orang sukses
suatu saat.
Agus berhasil lulus 2008 dan melanjutkan Pendidikan di SMP Swasta Lolo Alle dan lulus tahun 2011, dan melanjutkan Pendidikan di SMAK Santo Alfonsus Weetebula dan lulus tahun 2014.
Setelah tamat SMA, Agus pergi merantau ke Jakarta sambil bekerja disalah satu kantor Notaris / PPAT di Cirebon sambil melanjutkan sekolah dan mengambil jurusan Teknik Informatika di kampus STMIK WIT Cirebon dan lulus tahun 2020.
“Sungguh, saya ini orang yang beruntung masih diberi kesempatan oleh Tuhan, saya yang tidak bisa baca dan tidak bisa tulis saat itu, seandainya tidak ada sekolah yang bersedia terima saya sebagai siswa baru, maka saya tidak bisa membayangkan nasib saya seperti apa sekarang, tutur Agus.
Pesannya kepada masyarakat umum, para pemuda- pemudi maupun yang sudah putus sekolah, terus belajar dan tidak putus asa menghadapi tantangan hidup, karena keberhasilan itu berawal dari penderitaan, dengan bersekolah kita dapat mengubah hidup untuk lebih baik lagi.
teruslah budayakan membaca dan mengembangkan ilmu dengan disiplin kreatif, aktif,inovatif menciptakan hal-hal yang berguna buat keluarga, masyarakat bangsa dan Negara,”pungkasnya.
Jurnalis~”Rovyn Tenge”







