Saling Bantah Humas PT. TEP dan Kakon Karang Agung Tanggamus 

Foto: pendangkalan irigasi, air yang sangat keruh dan banyaknya lumpur yg mengaliri sawah- sawah yang ada di Kecamatan Semaka, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung.(Fahmi)

Tanggamus (matarajawali.id)- Fakta-Fakta yang ada di lapangan semenjak beroperasinya PT. Tanggamus Electric Power (TEP) mengakibatkan Pendapatan Petani Turun 30% dari Sebelumnya dikarnakan adanya pendangkalan irigasi, air yang sangat keruh dan banyaknya lumpur yg mengaliri sawah- sawah yang ada di Kecamatan Semaka, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung. Sabtu, 03 Juli 2021.

Sebelumnya awak media mendatangi Kepala Pekon Karang Agung Rohman Amin, guna untuk konfirmasi keterkaitan Klarifikasi Vico kepada kami awak media Namun Rohman Amin Membantah Klarifikasi Vico Humas PT.Tanggamus Electric Power (TEP) Kepada Awak Media yang datang Sabtu, 03 Juli 2021 dirumhnya dan menurutnya masyarakatnya sangat terkena dampak dengan adanya PT.TEP sejak pertamakali Beroprasi.

“Pernyataanya atau kelarifikasinya kepada kalian awak media malah tidak masuk akal coba di lihat secara langsung, sawah dan perairan disini jika perlu tanyakan langsung ke Ahmad salah satu masyarakat Karang Agung selaku pengamat pengairan semaka dia yang tau persis dampaknya,” ujarnya saat di jumapai awak media di rumahnya, Sabtu, 03 juli 2021.

Lanjut Awak media mendatangi (A.M) selaku pengamat pengairan Semaka di rumahnya di Dusun Suka Urip, Pekon Karang Agung, Kecamatan Semaka, Sabtu, 03 Juli 2021 dengan tujuan mengkonfirmasi mengenai dampak-dampak yang di timbulkan oleh PT.Tanggamus Electric Power (TEP) dia mengatakan Bahwa sangat ada dampaknya yang pertama Sendimen yang di sebut lumpur di dalam saluran, sebelum adanya TEP kita disini belum ada pengendapan disini, tetapi setelah adanya TEP satu kali musim sawah merata  dan sendimentasi yang masuk ke persawahan  lebih tinggi. Jadi ini  air saat ini susah dikarenakan lumpur itu tadi, lumpur itu mengendap sampai ke lahan persawahan yang menimbulkan sawah menambah tinggi.

Menurut (A.M) warga Suka Urip, air yang mengalir di sungai semaka ini bukan air yang mengalir melain kan lumpur dan sampai pihaknya susah untuk mengatur atau membagikan air untuk persawahan disana pihaknya juga sudah mengajukan proposal normalisasi ke dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi, dikarnakan air yang mereka miliki sudah tidak maksimal, dengan waktu pengajuannya proposalnya dia lupa karna sudah terlalu lama.

“Air yang mengalir di sungai semaka ini bukan air melain kan lumpur sampai kami mengatur air susah pak, jadi begini untuk air sampai ke sawah yang di atas kita harus membendung untuk menaikan level airnya, ketika kita membendung untuk level air otomatis terhambat yang di bawah dikarnakan disini terbendung dan pihaknya juga sudah mengajukan proposal Normalisasi ke dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi, dikarnakan air yang mereka miliki sudah tidak maksimal, kalo waktu pengajuan lupanya lupa pak karna udah lama.” Ujarnya.

Takhanya disitu saja awak media mendatangi tokoh masyarakat Karang Agung, Kecamatan Semaka di rumhnya, Sabtu, 03 Juli 2021sebut saja iya (M) guna meminta tanggapan terkait dampak-dampak yang ada dikarnakan adanya PT. TEP begini tanggapannya.

” Sementara ini dampaknya adalah pendangkalan air dan keruh, memang dulu air semaka keruh namun sekarang ini luar biasa keruhnya.” Tanggapnya.
Jurnalis : Fahmi Y.

BAGIKAN